Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes

Berikut ini penjelasan tentang teori permintaan dan penawaran uang, teori permintaan, penawaran uang, teori permintaan uang, teori kuantitas uang, teori permintaan uang keynes, teori keynes, teori ekonomi keynes, teori ekonomi menurut keynes, teori pertumbuhan ekonomi keynes.

Dalam sejarah perkembangannya pernah kepopuleran teori kuantitas uang menurun dengan sangat drastis karena munculnya buku John Maynard Keynes yang berjudul The General Theory of Employment, Interest dan Money.

Teori Keynes

Seseorang dapat menimbun kekayaan selain dalam bentuk benda juga dapat dalam bentuk uang. Oleh karena itu uang juga berfungsi sebagai alat penimbun kekayaan. Dalam keadaan ekonomi normal orang justru lebih suka menimbun kekayaan dalam bentuk uang. 

Hal ini disebabkan kekayaan dalam bentuk uang lebih luwes karena dapat segera digunakan untuk mencukupi kebutuhan lain daripada dalam bentuk barang. Oleh John Maynard Keynes kecenderungan ini disebut sebagai liquidity preference

Menurut Keynes ada 3 alasan/motif mengapa tiap rumah tangga dalam sektor perekonomian memegang atau menyimpan uang tunai.

1) Alasan transaksi

Bahwa kecenderungan untuk menyimpan uang dengan alasan untuk membiayai transaksi kebutuhan sehari-hari, karena dengan tersedianya uang tunai segala kebutuhan dan keperluan usaha dapat dipenuhi dengan cepat. 

Menurut Keynes semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pula keperluan untuk transaksi. Lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini.
Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes
Grafik pengaruh tingkat harga kebutuhan sehari-hari
dengan permintaan uang tunai untuk transaksi
Keterangan :
M = uang tunai
LT = permintaan uang tunai

Misalnya pendapatan suatu rumah tangga dalam semingu Rp1.600.000 yang diterima setiap Sabtu sore. Bagaimanakah keadaan saldo kas (cash balance) ratarata? 

Jawabnya adalah Rp800.000,00. Jumlah ini berasal dari penjumlahan saldo yang terbesar (Rp1.600.000,00) dengan saldo terendah (Rp.0) dibagi 2. 

Jika saldo tunai Rp1.600.000,00 dibelanjakan habis dalam seminggu, maka Sabtu sore sebelum menerima pendapatan yang baru, uang lama sudah habis. 

Dan bila telah menerima pendapatan lagi, uang kas kembali menjadi Rp1.600.000,00 dan akan habis lagi seminggu kemudian, dan demikian seterusnya.

Tetapi bagaimana jika dalam rumah tangga tersebut ada kenaikan pendapatan misalnya menjadi Rp1.620.000,00. Sesuai dengan teori perubahan pendapatan tersebut akan memengaruhi pola saldo kas tunai untuk transaksi. 

Hubungan yang terjadi antara permintaan uang untuk tujuan transaksi dengan besar kecilnya tingkat pendapatan akan terlihat seperti gambar berikut.
Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes
Grafik hubungan permintaan uang tunai untuk transaksi
dengan tingkat pendapatan
Keterangan :
Pada waktu pendapatan Rp1.600.000,00 per minggu, berarti permintaan uang tunai untuk transaksi rumah tangga ini dalam setahun sebesar 52 minggu x Rp1.600.000,00 = Rp83.200.000,00. Bila terjadi peningkatan pendapatan maka kebutuhan transaksi satu tahun juga akan meningkat. 

Seperti pada grafik di atas jika ada kenaikan pendapatan menjadi Rp1.620.000,00 maka dalam setahun permintaan uang tunai untuk bertransaksi dalam keluarga ini menjadi 52 minggu x Rp1.620.000,00 = Rp84.240.000,00.

Bila penjumlahan uang rumah tangga dilakukan dalam perekonomian maka akan diperoleh kurva permintaan agregat untuk tujuan transaksi akan mempunyai bentuk yang sama yaitu dengan meningkatnya pendapatan nasional maka jumlah uang yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk maksud
transaksi juga akan meningkat. Perhatikan kurva di bawah ini!
Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes
Permintaan uang untuk transaksi dalam perekonomian nasional
Oleh Keynes hubungan antara permintaan agregat dengan pendapatan nasional dirumuskan:

LT = KY

Di mana:
LT = permintaan uang untuk transaksi
K = proporsi untuk transaksi dari pendapatan
Y = pendapatan nasional

Contoh soal:
Diketahui bahwa pendapatan nasional dalam suatu perekonomian Rp100.000.000,00. Jika 25 % dari pendapatan nasional tersebut digunakan untuk keperluan transaksi, berapa permintaan uang yang dibutuhkan masyarakat untuk bertransaksi?

Jawab:
LT = KY
     = 25% x Rp100.000.000,00
     = Rp25.000.000,00

2) Alasan berjaga-jaga

Alasan kedua yang mendorong seseorang menyimpan sebagian dari kekayaannya dalam bentuk uang tunai adalah motif berjaga-jaga (precautionary motive). Menurut kenyataan, dunia ini penuh dengan ketidakpastian. 

Banyak pengeluaran yang harus kita lakukan tanpa kita ketahui sebelumnya. Sakit misalnya, pada umumnya tidak dapat diramalkan, sehingga pengeluaran untuk berobat tidak dapat direncanakan. 

Contoh lain misalnya jika kita bepergian atau rekreasi, hampir senantiasa dengan sengaja jumlah uang yang kita bawa lebih banyak daripada jumlah pengeluaran yang kita rencanakan dalam perjalanan. Adapun alasan yang sering kita pakai adalah "untuk berjaga-jaga". 

Selanjutnya besar kecilnya uang yang kita bawa untuk berjaga-jaga tersebut umumnya ditentukan seberapa besar pengeluaran/transaksi yang mungkin akan kita lakukan. 

Hal ini berarti pula bahwa besar kecilnya jumlah uang yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk maksud berjaga-jaga dapat dihubungkan dengan besar kecilnya pendapatan nasional seperti halnya dengan kebutuhan masyarakat akan uang untuk keperluan transaksi. 

Karena itu permintaan uang untuk alasan berjaga-jaga ini oleh para pemikir ekonomi sering dijadikan satu dengan kebutuhan uang untuk maksud transaksi. 

Gabungan dari permintaan uang untuk transaksi dan untuk alasan berjaga-jaga ini disebut permintaan uang L1. Oleh Keynes hubungan keduanya dirumuskan sebagai berikut.

L1 = LT + LJ
Contoh soal :
Diketahui bahwa pendapatan nasional dalam suatu perekonomian Rp100.000.000,00 jika 25 % dan 15% dari pendapatan nasional tersebut masing-masing digunakan untuk keperluan transaksi dan untuk berjaga-jaga, berapa permintaan uang yang dibutuhkan masyarakat untuk bertransaksi?

Jawab :
Diketahui, Y = Rp100.000.000,00
              LT = 25% Y
               LJ = 15% Y

Maka       L1 = (25% + 15 %) Rp100.000.000,00
                    = 0,04 x Rp100.000.000,00
                    = Rp40.000.000,00

Jadi permintaan uang untuk keperluan transaksi dan untuk alasan berjaga-jaga Rp40.000.000,00

Untuk lebih jelasnya, Gambar berikut disajikan untuk menerangkan hubungan antara permintaan uang untuk alasan transaksi dan alasan berjaga-jaga.
Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes
Hubungan permintaan uang untuk transaksi dan alasan berjaga-jaga
Keterangan :
Dari gambar di atas dapat diterangkan bahwa besar permintaan uang untuk berjaga-jaga (L1) sebesar 0,40y yang diperoleh dari jumlah permintaan uang untuk transaksi (LT) sebesar 0,25y dan jumlah permintaan uang untuk berjagajaga (LJ) sebesar 0,15y.

3) Alasan spekulasi

Menurut pendapat J.M. Keynes, uang tunai di samping mempunyai manfaat untuk memperlancar transaksi dan untuk berjaga-jaga dapat juga untuk maksud spekulasi. 

Spekulasi artinya mencari keuntungan sesaat, suatu contoh misalnya seorang pedagang kelontong membeli buku tulis dengan jumlah yang banyak pada saat harga buku sedang murah karena ia tahu pada awal tahun pelajaran baru, harga buku akan mengalami kenaikan dan permintaan akan naik. 

Sehingga ketika ia menjual pada saat awal tahun pelajaran ia akan mendapat untung yang berlipat. Untuk menjalankan spekulasi ini tentu dibutuhkan dana atau uang tunai yang biasanya lebih banyak karena para spekulan ingin mendapatkan keuntungan yang berlipat.

Gambar di bawah ini menggambarkan jumlah uang yang dibutuhkan untuk spekulasi yang diukur dengan sumbu horisontal, sedangkan sumbu vertikal untuk mengukur tingkat suku bunga di pasar, suku bunga di pasar berpengaruh secara langsung pada permintaan uang.
Teori Ekonomi Kuantitas Permintaan dan Penawaran Uang Menurut Keynes
Hubungan permintaan uang untuk spekulasi dengan tingkat suku bunga
Keterangan:
Pada saat tingkat suku bunga L0 jumlah permintaan uang untuk spekulasi sebesar L2A, tetapi pada saat suku bunga turun menjadi L1 maka jumlah permintaan uang untuk keperluan spekulasi akan naik menjadi L2B.

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa besarnya permintaan uang spekulasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga, artinya jika suku bunga turun permintaan uang untuk spekulasi naik, tetapi jika suku bunga naik maka permintaan uang untuk spekulasi turun.