Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 PENYEBAB WANITA JUNUB

Junub adalah salah satu hadats besar yang menjadi mani’ (penghalang) untuk melaksanakan beberapa ibadah tertentu seperti shalat, I’tikaf, dan thawaf. Jika hadats kecil- kencing, kentut, dan lain sebagainya- dapat disucikan dengan berwudhu maka hadats besar tidaklah demikian. Untuk menghilangkan hadats besar, seseorang harus mandi.

Allah berfirman,” Dan jika kamu junub maka mandilah!” (QS.al-Ma’idah [5]: 6).

Adalah yang dimaksud dengan mandi di sini adalah mandi besar, bukan sekedar mandi biasa. Mandi besar mempunyai rangkaian tata cara khusus yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Seorang muslimah akan mendapati keadaan junub sehingga wajib mandi jika mengalami tiga ha. Yaitu: keluarnya mani dalam keadaan sadar, keluarnya mani saat bermimpi, dan saat berhubungan badan. [Abdul Karim Zaidan, al-Mufashal fi Ahkami al-Mar’ah, 1/100].

Keluar Mani Saat Kondisi Sadar

Para ulama sepakat, wanita yang mengeluarkan mani karena syahwat dalam kondisi sadar maka ia telah junub dan wajib mandi. Tidak perlu melihat sebabnya, baik karena sentuhan, pandangan, atau lainnya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw,” sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani).” (HR. Muslim).

Berbeda hukumnya dengan wanita yang mengeluarkan mani dalam keadaan sadar namun tidak disertai syahwat, seperti sakit atau kedinginan. Dia tidak wajib mandi. Dengan demikian, hadits di atas maknanya adalah keluar mani disertai syahwat yang mengakibatkan lemah dan lesu pada badan. [Ibnu Utsaimin, Syarh al-Mumti; 1/177-178].

Keluar Mani Saat Bermimpi     
         
Seorang muslimah yang ihtilam (mimpi basah) dan mengeluarkan mani maka ia junub dan wajib mandi. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa suatu ketika Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah Saw seraya berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Jika seorang wanita ihtilam, apakah ia harus mandi?” kemudian Rasulullah Saw menjawab,” Iya, jika ia melihat air (mani).” Maksudnya adalah jika mendapati air mani setelah bangun dari tidurnya. [al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, 1/388].

Jika seorang muslimah ihtilam namun tidak mendapati mani ketika bangun, ia tidak wajib mandi. Dan sebaliknya, wanita yang tidak ihtilam namun mendapati mani setelah bangun, maka ia tetap harus mandi.

Ibnu Abdil Barr menuturkan,” Para ulama sepakat, ihtilam terjadi pada laki-laki dan perempuan. Seseorang yang ihtilam dan tidak mendapati mani serta tidak mendapati bekasnya maka ia tidak harus mandi. Seorang yang ihtilam dan mengeluarkan mani maka ia harus mandi. Hal ini baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sesunggunya mandi (junub) itu tidak diwajibkan lantaran mimpi kecuali jika keluar mani.” [Ibnu Abdul Barr, at-Tamhid lima fi al-Muwaththa;8/337].

Adapun wanita yang mendapati mani di bajunya, padahal tidak ada  seorang pun yang tidur dengan baju itu selain dirinya, ia wajib mandi. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa ihtilam itu terjadi pada laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, dalam persoalan ini hukumnya pun sama dengan laki-laki. Ketika sahabat Umar dan Utsman melihat mani dipakaiannya, mereka mandi. Alasannya, tidak mungkin mani itu milik orang lain. Pasti itu mani orang yang memakainya. [Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/203].

Berhubungan Badan setelah seseorang muslimah berhubungan badan dengan suaminya, ia wajib mandi; baik keluar mania tau tidak. Hubungan badan yang dimaksud adalah jika terjadi coitus. Para ulama mengistilahkannya dengan “ timba yang masuk kedalam sumur.” Yang demikian ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw,” Apabila seorang pria duduk di antara empat cabang tubuh wanita dan khitannya menyentuh khitan wanita, ia wajib mandi.” (HR.Muslim).

Memang ada ulama – salah satunya Dawud azh-Zhahiri- yang berpendapat bahwa orang yang berhubungan badan tidak wajib mandi jika tidak keluar mani. Sabda Rasulullah Saw,” Sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani),” dijadikan pijakan. Namun pendapat ini telah dibantah dan didudukkan oleh jumhur ulama. Hal itu merupakan rukhsah (keringanan) yang diberikan Rasulullah pada awal disyariatkannya mandi junub. Setelah itu diwajibkan mandi bagi seorang yang melakukan hubungan badan meskipun tidak mengeluarkan mani. [Ibnu Qudamah, al-Mughni, 204].

Wallahu a’lam.[]