Kisah  

Akhir Hayat Penggemar Musik dan Pencinta Al-Qur’an (Bag. 2)

Tiba-tiba
aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga
bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi
perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku
kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang
menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu,
aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. 



Aku tak mau
tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan
lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan
itu, sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.


Seseorang
mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota.


Ia
turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di
belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan
kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung
tersungkur seketika.


Aku
dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama-
cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula
kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.


Dia
masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan
perintah agama.

Ketika
mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat
memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. 



Ketika kami membujurkannya di
dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.


Ia
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah!
” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia
hampir mati.


Dalam
kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya
yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah
itu. 



Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat
sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya
pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.


Aku
dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang
merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke
setiap rongga.


Tiba-tiba
suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari
telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.
Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah
meninggal dunia.


Aku
lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku,
takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah 
wafat. 



Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku.
Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul
sangat mengharukan.  


Sampai
di rumah sakit…

Kepada
orang-orang disana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa
menjelang kematiannya yang menakjubkan. 



Banyak orang yang terpengaruh dengan
kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari
mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium
keningnya.


Semua
orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara
pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan
terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.


Salah
seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan
jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan
ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. 



Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi
kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang
kebutuhan pokok lainnya. 



Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan
kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang
ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak
kecil.


Bila
ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab
dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan
mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset
pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku
ayunkan,” kata almarhum.


Aku
ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Dalam
liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.

“Dengan
nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.


Pelan-pelan,
kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,
sesungguhnya dia akan ditanya…


Almarhum
menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi
hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. 



Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk
tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta
menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…